Kamis, 15 Januari 2009

GLOBAL WARMING Vs KRAKATAU

Letusan Krakatau pada 1883 menyemburkan 25 kilometer kubik batu dan abu vulkanik ke udara, suara yang menggelegar, dan gempa yang dahsyat. Abu vulkanik yang mengisi atmosfer Bumi menghalangi pancaran cahaya matahari selama berbulan-bulan bahkan tahun, jauh lebih lama dari perkiraan.
Hal tersebut mendinginkan permukaan air laut yang pengaruhnya terasa sampai ratusan tahun. Begitulah hasil analisis Peter Gleckler, ahli iklim dari Lawrence Livermore National Laboratory di Kalifornia. Bersama koleganya, ia membandingkan model iklim jangka panjang yang mebandingkan kondisi tanpa adanya letusan dan dengan letusan Krakatau. Mereka terkejut, sebab aktivitas tersebut menurunkan suhu global yang dirasakan lebih dari satu abad setelah terjadinya letusan."Gunung punya pengaruh yang besar. Suhu lautan dan tinggi permukaannya akan naik lebih tinggi jika tidak terjadi letusan," kata Glecker. Menurut Gleckler, pengaruhnya sangat dirasakan terutama selama abad ke-20. Sebab, seiring meningkatnya kandungan gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan suhu atmosfer semakin tinggi. Dalam satu dekade terakhir, suhu air laut rata-rata meningkat sekitar 0,037 derajat Celcius.Gleckler dan para peneliti AS dan Inggris lainnya juga mempelajari pengaruh letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Namun, letusannya yang hebat tidak menimbulkan efek sekuat Krakatau. Kemungkinan, pengaruh gas rumah kaca pada 1991 jauh lebih besar daripada 1883.Dengan temuan ini, ia berharap para ilmuwan memperhatikan dengan lebih cermat faktor letusan gunung berapi dalam membuat pemodelan iklim. Meskipun demikian, lanjut Gleckler, kita tidak mungkin mengandalkan letusan gunung untuk mencegah tren pemanasan global dan naiknya permukaan laut. Nah seandainya manusia membuat bom yang mempunyai efek yg sama dengan letusan gunung berapi Krakatau (tentu saja dengan perhitungan yg cermat) dan bom tersebut diledakkan di angkasa dengan ketinggian tertentu, ada kemungkinan global warming dapat dikendalikan.

0 komentar: